Sabtu, 25 Desember 2010

Jalan Terjal Seorang Manager Membangun Karir dan Keluarga

Jalan Terjal Seorang Manager Membangun Karir dan Keluarga

Kondisi ekonomiku yang “terjun bebas” sempat membuat istriku kurang sabar. Meski akhirnya Allah berkehendal lain
PADA awalnya, sekalipun kami hidup dalam kekurangan, namun kebahagiaan tetap menyelinapi kehidupan kami sekeluarga yang berjumlah lima orang, terdiri dari; ayah, ibu, aku, dan kedua adikku, yang semuanya laki-laki.

Senyum sumringah acap kali menghinggap di kedua pipi kami, menghiasi hari-hari yang memang cukup memberatkan. Hampir setiap hari sekeluar dari sekolah, kami harus pergi ke sawah/kebun, guna membantu mereka bertani. Kami tidak kenal jam main. Yang ada adalah sekolah, belajar, dan bekerja. Walau demikian, tetap kami lalui hari-hari dengan hati riang, terlebih ketika melihat kekompakkan kedua orang tua kami yang saling bahu-membahu satu sama lain, guna menuju kehidupan yang lebih baik. Hal tersebut menjadi hiburan tersendiri bagi kami sebagai anak.

Namun sayangnya, pada pertengahan tahun 1989 (saat itu saya duduk di bangku kelas tiga SMP), kabut hitam menaungi keluarga kami, setelah ayah beralih profesi dari petani ke tukang ojek. Dia selingkuh dengan wanita lain. Efeknya, kepeduliannya terhadap keluarga turun drastis, bahkan bisa dibilang punah.

Hampir setiap hari, aku dan adik-adik menyaksikan pertengkaran antara ibu dan ayah. Kasih sayang seorang bapak pun, sepertinya ikut hanyut, mengikuti arus wanita lain. Tidak ada lagi istilah belaian kasih sayang, apa lagi uang saku/jajan. Yang tinggal hanyalah umpatan dan makian. Dan yang membuat hati lebih tersayat, ternyata aib keluargaku ini telah tersebar di masyarakat sekitar, termasuk di sokalahanku. Karenanya, setiap sekolah, ejekan, cemoohan teman-teman sebagai anak si-tukang selingkuh -bisa dikatakan- telah menjadi 'menu' tambahan yang cukup menyakitkan perasaan.

Sebagai anak sulung, aku sering mengingatkan beliau. Tapi yang kudapat justru makiannya yang kasar. Karena 'kecerewetan'ku itu, akupun sering dihujat dan diusir dari rumah. Karena melihat sosok ibu lah maka aku bertahan.

Hijrah ke Jakarta

Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata prilaku buruk ayahku tidak juga hilang. Yang terjadi justru sebaliknya, dia sering bergonta-ganti pasangan. Usut punya usut, ternyata -menurut pengakuannya- beliau melakukan hal ini, dikarenakan dia menghendaki anak perempuan, sedangkan ketiga anak yang lahir dari rahim istrinya alias ibuku adalah laki-laki.

Melihat prilaku ayah yang semakin sulit untuk di kendalikan, serta kondisi lingkungan (keluarga, masyarakat, dan sekolah) yang sangat menyesakkan dada, akupun mengutarakan keinginanku ke salah satu paman, yang memang merantau di Jakarta untuk ikut beliau, dan mengais rizki di sana. Prihatin dengan kondisi yang kualami, beliaupun mengamini, meski sebenarnya saat itu saya tengah mempersiapkan diri guna menghadapi ujian akhir sekolah SMP, yang akan dilaksanakan satu minggu mendatang. Atas desakan dan rengekanku, beliau pun mengabulkan dengan konsekwensi yang cukup besar, saya tidak bisa ikut ujian, dan itu artinya, saya tidak akan lulus sekolah.

Jalan Terjal Menuju Sukses

Tidak jauh berbeda dengan impian para perantau lain, akupun memiliki harapan, kedepan, aku bisa memiliki kehidupan yang lebih layak dalam segala hal, termasuk masalah ekonomi. Selain itu, terbesit di dalam hati untuk menghentika perilaku buruk ayah dengan cara memberinya cucu perempuan. Sebab, saban hari, beliau pernah berujar, ”Saya tidak akan berhenti sebelum memiliki anak atau cucu perempuan”, ujarnya dengan nada serius dan tatap mata tajam.

Karena tidak memiliki skill yang cukup serta ijazah, akupun mengarahkan perburuan pada kerja kasar sebagai kuli bangunan. Karena melihat postur tubuhku yang pada saat itu masih kecil serta usiaku yang masih terbilang terlalu dini, lamaranku ditolak. Tak surut semangat, aku coba 'banting setir' dengan melamar pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga. Gayung bersambut, akupun diterima sebagai pembantu di salah satu rumah yang berada di kota Bekasi. Yang membuatku bagai 'ketiban buah durian' ternyata majikanku itu merupakan sosok yang sangat baik. Ketepatan, dia juga memiliki bengkel Kulkas dan AC.

Di sela-sela mengerjakan tugas wajibku sebagai pembantu itulah, dia menganjurkanku untuk turut aktif di bengkelnya. Akupun tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu, ”Sekali berdayung, dua-tiga pulau terlampaui”, ujarku membatin.

Selama dua tahun bekerja di sini, akhirnya pada tahun 1992, setelah melihat kepiawaian baruku dalam bidang bengkel, dia menganjurkanku untuk membuka bengkel sendiri dengan modalnya. Sayang, belum juga lama menjalani profesi baru, biduk rumah tangga orang yang telah berbaik hati mengajariku banyak hal ini, digoncang beberapa masalah yang imbasnya, akupun disarankan untuk mencari pekerjaan lain.

Selanjutnya, aku melamar sebagai buruh di salah satu pabrik sepatu yang terletak di Serang. Di sini, saya senantiasa berusaha bekerja dengan sebaik-baiknya. Apapun yang ditugaskan, selalu saya kerjakan dengan hasil yang memuaskan. Tak disangka, ternyata secara diam-diam ada sosok yang terpicut dengan pola kerjaku yang serius lagi cermat. Dia pun menawariku untuk bekerja di tempatnya sebagai pengawas dengan gaji yang menggiurkan. Setelah berfikir panjang, akupun menekan kontrak.

Di tempat baru ini, tantangan baru harus aku hadapi. Terjadi kecemburuan sosial antara aku sebagai karyawan baru yang langsung diangkat sebagai pengawas, dengan para senior yang telah bertahun-tahun mengabdikan diri di sana, dan belum juga dipromosikan ke tingkat yang lebih tinggi, terlebih, ketika mereka melihat 'kemesraan' hubunganku dengan sang-Bos.

Puncaknya, mereka pernah mengeroyok, serta mengguna-gunaiku dengan ilmu sihir, hingga aku sempat terkulai beberapa hari. Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah jualah, serta diiringi dengan kesabaran dan komunikasi yang efektif, merekapun akhirnya membuka hati untuk menerimaku.

Menikah dan Ujian

Setelah merasa mapan secara ekonomi, pada tahun 1997 aku bulatkan tekatku untuk menikah dengan seorang gadis yang sudah cukup kukenal. Dari pernikahan itu - dengan izin Allah tentunya- lahirlah putri cantik yang memang sudah lama kami dambakan. Dan setelah mengetahui kalau kami dikaruniai anak perempuan -dengan bantuan hidayah dari Allah tentunya- Ayah benar-benar meninggalkan kelakuan bejatnya yang telah digeluti bertahun-tahun lamanya, tanpa ragu sedikitpun. Beliaupun mengakui akan kekeliruannya selama ini.

Setahun berikutnya, ayah meminta kami untuk tinggal di kampung halaman yang berlokasi di Lampung Timur. Setelah bermusyawarah dengan sang-istri, kamipun menyanggupi. Pekerjaan sebagai pengawas dengan gaji besarpun aku tinggalkan dan beralih profesi sebagai tani biasa. Tak dinyana, ternyata untuk kedua kalinya, peristiwa pahit tentang perselingkuhan keluarga kembali melanda.

Tragisnya, kali ini, istrikulah yang menjadi 'pemeran utamanya'. Peristiwa itu terjadi, ketika dia mendesak untuk pergi ke Malaysia guna menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita) pada tahun 2000, karena ketidaksabarannya dalam menghadapi kondisi ekonomi saat itu yang memang sedang 'terjun' bebas.

Dan ternyata di sana (Malaysia) dia justru mengkhianati kepercayaanku dengan cara berselingkuh, dan kelakuannya itu terus berlanjut ketika pulang ke tanah air, dua tahun setelah keberangkatannya. Dia sering menelphon dan berangkat dengan laki-laki lain.

Sebagai suami, aku sempat shock berat menghadapinya. Untuk melampiaskan kekesalanku, akupun melakukan hal serupa. Untungnya kelakuan bejat itu tidak lama menghindap. Aku tersadarkan, bahwa apa yang aku lakukan ini merupakan langkah yang keliru. Demi kebaikkan keluarga, pada tahun 2008 silam, keputusan berat kuambil dengan menceraikannya karena memang -sepertinya- dia sudah sangat enjoy dengan apa yang dia lakukan. Nasehat-nasehat sudah mental.

Saat ini, aku telah menikah lagi dengan seorang janda yang juga memiliki pengalaman yang sama persis denganku, dan telah dikaruniai seorang anak laki-laki mungil. Yang mengharukan, bersamaan dengan lahirnya sang buah hati satu tahun silam, aku dipanggil pihak kantor di Jakarta, tempatku bekerja beberapa tahun terakhir ini untuk diamanahi sebagai 'Project Manager' sebuah perusahaan kontraktor yang nilai proyeknya hingga ratusan milyar rupiah.

Puji syukur kuucapkan pada Allah Yang Maha Mengetahui Segala Hikmah yang tersembunyi di balik kejadian-kejadian yang melanda hamba-hambanya.

Mudah-mudahan apa yang terjadi masa laluku, benar-benar menjadi bekal yang berarti untuk menjadi orang yang lebih baik lagi di masa depan, baik itu sebagai manusia yang bertugas memakmurkan bumi, ataupun sebagai hamba yang harus mengabdikan diri kepada-Nya. Amin...amin yaa Rabbal 'aalamin.  [disampaikan langsung oleh Priyanto, laki-laki asal Sribawono, Lampung Timur, kepada hidayatullah.com]

Di Mana Ada Kemauan, Di Situ Ada Jalan!

Meski anak petani kecil, saya harus bertekad sekolah tinggi. Alhamdulillah, Allah memudahkan, kini, saya sedang melanjutkan program doktor bidang pendidikan

Hidayatullah.com--SAYA punya pengalaman buruk. Dulu, ketika SMA, saya pernah ikut olimpiade sains tingkat propinsi yang bertempat di Semarang, Jawa Tengah. Ketika itu, saya hanya bisa berada di posisi sepuluh besar. Kendati jauh dari yang saya harapkan, tapi saya tak kecewa. Setidaknya, saya telah berusaha semaksimal mungkin.

Tapi, hal yang membuat saya sangat kecewa adalah para peserta yang dapat juara ternyata si “mata sipit”, China. Tak ada satu pun pelajar pribumi Muslim. Saya sendiri ketika itu utusan dari sekolah kecil di kota terpencil Grobogan. Tak pelak, sebagai pelajar pribumi Muslim, hal itu membuatku kurang PD.

Pengalaman itulah yang memompa semangatku agar lebih semangat belajar dan berprestasi. Tak sewajarnya kalah dengan mereka yang berbeda agama apalagi minoritas jumlahnya. Padahal, sebagai Muslim, seharusnya memiliki kualitas ilmu yang jauh lebih dahsyat ketimbang mereka. Bukankah sejarah Islam selama ini mengatakan, umat Islam selalu mendapat kemenangan dalam setiap pertempuran. Padahal, jumlah mereka lebih sedikit. 

Sejak itu, saya berniat belajar hingga doktor meski kondisi ekonomi sangat tipis. Orangtuaku hanya petani kecil biasa. Hasilnya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, mustahil jika untuk biaya kuliahku. Usai SMA, saya melanjutkan perguruan tinggi swasta di Surabaya. Alhamdulillah, selama kuliah, saya mendapat beasiswa penuh; SPP, makan plus asrama. Saya pun hanya tinggal mencari biaya tambahan sehari-hari untuk buku, sabun dan lain sebagainya.

Untuk mendapatkan itu, saya terkadang ngajar les private, jual majalah hingga menjadi juru pungut donatur di sebuah lembaga amil zakat. Semuanya saya lakukan dengan senang hati hingga lulus kuliah. Selama kuliah saya jadi mahasiswa terbaik dan ketika lulus pun dengan predikat cum laude. Satu tangga sudah saya lalui. Plong.

Seperti cita-cita tadi. Saya haru terus kuliah. Saya harus tapaki tangga lainnya lagi yang masih tinggi dan mendaki. Karena itu, setahun usai S1, saya kemudian melanjutkan S2 di perguruan tinggi negeri ternama di kota Jember, Jatim. Padahal, waktu itu tak punya modal, hanya yakin saja di mana ada kemauan di sana ada jalan. Betul saja, setelah kuliah S2, ternyata rezeki datang dari mana saja. Tak terduga.

Untuk memenuhi biaya S2 dan kebutuhan lainnya, saya membuka bimbingan belajar (Bimbel). Saya mengumpulkan puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jember untuk jadi guru les di tempat bimbel yang telah saya buat. Dari situ, saya bisa memiliki ratusan murid les. Setiap bulannya saya bisa meraup bersih Rp. 3 juta lebih. Setidaknya, dari usaha itu bisa menutupi biaya kuliahku. Hal itu pun membuat saya jadi lebih yakin bahwa jika ada kemauan, pasti ada jalan. Tinggal mau berusaha atau tidak.

Jalan mulus pun tak jarang saya lalui selama menimba ilmu. Ketika itu ada seorang kenalan yang ingin menjual tanahnya, luasnya sekitar 10 hektar. Dia minta dicarikan pembeli. Kebetulan, dosen saya punya rekan yang butuh lahan untuk membuka usaha.

Dan, Alhamdulillah cocok. Saya pun berhasil memediasikan jual beli itu. Tak disangka, dari hasil cuap-cuap itu saya dapat imbalan fantastis. Padahal, di awal, saya tak mematok harga atas apa yang saya lakukan itu. Uang cukup banyak itu lalu saya investasikan untuk membeli pohon sengon. Sekitar dua tahun, waktu normal kuliah S2, saya akhirnya lulus juga. Tangga ke dua berhasil saya lalui. Plong.

Melanjutkan sekolah

Usai lulus S2, saya pun langsung melanjutkan ke jenjang doktor.  Saya mengambil di perguruan tinggi negeri ternama di Semarang, Jateng dengan jurusan yang sama. Seperti sebelumnya, saya memciptakan usaha untuk menopang biaya kuliah dan hidup. Saya membuka usaha warteg. Kini sudah ada tujuh warteg yang saya kelola. Selain itu saya juga bisnis lainnya; jual beli batik dan sebagainya.

Dari situ saya sudah cukup mendapat keuntungan. Tak hanya itu, tesis saya, “Marketing Sekolah” juga dibeli Dikti seharga Rp 50 juta. Selama kuliah, S1, S2 hingga S3 (masih proses), saya merasakan ada bukti dari falsafah itu; "Jika ada kemauan pasti ada jalan."

Saya pun semakin yakin untuk menapaki tangga-tangga lainnya yang masih tinggi dan terjal. Asal ada keingginan dan usaha yang keras.

Tapi, tangga-tangga yang saya lalui itu tidak hanya untuk sekedar mengoleksi gelar saja. Jauh dari itu, saya ingin membangun lembaga pendidikan yang berkualitas yang mampu menciptakan out put unggul baik di bidang agama maupun umum. Menciptakan pelajar Muslim yang tidak kalah hebat.

Mungkin, orang yang mengetahui cita-citaku itu akan pesimistis atau setidaknya mencemooh “Masa anak petani miskin punya cita-cita tinggi.” Tapi, saya tetap yakin, di mana ada keinginan pasti ada jalan. Dan, keinginan itu pun telah saya rintis.

Insya Allah, saya akan membeli lahan di sebuah daerah dingin yang representatif di daerah Semarang. Di sana, jika tidak ada aral melintang, rencananya akan membangun lembaga pendidikan. Saya pun telah merancangnya dari sekarang. Hasil dari investasi 20 hektar pohon sengon pun akan saya tanamkan di situ. InsyaAllah. [ans, seperti dikisahkan Iskandar kepada hidayatullah.com]